Filosofi mengajar saya berakar pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara, khususnya asas menuntun kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Dalam konteks pendidikan vokasi Teknik Pemesinan, saya memandang proses belajar bukan sekadar mentransfer keterampilan teknis mengoperasikan mesin, melainkan proses memanusiakan hubungan kerja. Guru berperan sebagai fasilitator yang berdiri di depan memberikan teladan (ing ngarsa sung tuladha), di tengah membangun karsa (ing madya mangun karsa), dan di belakang memberikan dorongan moral serta spiritual (tut wuri handayani) guna menumbuhkan kemandirian belajar siswa di lingkungan bengkel yang dinamis.
Mengacu pada teori konstruktivisme sosial oleh Vygotsky, saya meyakini bahwa pembelajaran efektif terjadi ketika siswa berkolaborasi memecahkan masalah riil. Di era industri modern, kompetensi teknis (hard skills) harus berjalan selaras dengan karakter kerja (soft skills). Oleh karena itu, saya mengintegrasikan prinsip-prinsip Charles Prosser tentang pendidikan vokasi, di mana lingkungan belajar harus mereplikasi lingkungan kerja yang sebenarnya (dunia industri). Melalui pendekatan Project-Based Learning (PjBL), siswa tidak hanya belajar memotong logam dengan presisi, tetapi juga dilatih berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, serta mengelola keselamatan kerja secara disiplin dan penuh tanggung jawab.
Sebagai penutup, bagi saya, menjadi guru vokasional profesional adalah panggilan untuk membentuk masa depan industri Indonesia melalui penyiapan sumber daya manusia yang unggul secara kompetensi dan berintegritas secara moral. Filosofi ini menjadi komitmen ideologis saya selama perjalanan karier keguruan. Saya percaya bahwa setiap mesin memiliki presisi tersendiri, demikian pula dengan setiap anak didik yang memiliki potensi uniknya masing-masing. Tugas mulia saya adalah membimbing mereka agar mampu menemukan presisi terbaik dalam hidup mereka, berkontribusi secara nyata bagi masyarakat, serta menjadi pembelajar sepanjang hayat yang adaptif terhadap perkembangan teknologi manufaktur global.